Sebuah Ketidakadilan Terjadi Lagi

Perjuangan yang sangat panjang telah ditempuh oleh warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera. Hasilnya..sungguh sangat mengecewakan…Presiden pun mengukuhkan keberpihakannya pada pemilik modal besar. Konflik horizontal akibat luapan lumpur lapindo pun dibiarkan terjadi.

Alasan awal Lapindo bahwa Perum TAS (tentunya termasuk daerah sekitarnya) tidak termasuk peta kesepakatan di bulan Desember 2006 dan selanjutnya bersikukuh bahwa luapan di Perum TAS lebih dikarenakan ledakan pipa gas, sungguh amat menggelikan. Gubernur yang tadinya menyatakan “jika warga menolak, akan diteruskan ke pusat” berubah menjadi “mengajak pansus lumpur di DPRD mengusahakan relokasi plus daripada cash and carry.

Terima kasih kepada Bu Agnes Tuty (kolega saya di ITS) yang ikut mendukung tuntutan cash n carry. Sebetulnya saya pribadi agak ragu dengan posisi ITS (dan lembaga lainnya) yang di mata para tetangga saya adalah pencari proyek (mencari dana segar di tengah penderitaan orang lain).

Kalau mau perhitungan yang matang…mangga kita hitung. Saya membeli rumah di Perum TAS dengan kredit (yang harga tunainya 40 juta). Selama lebih dari 4 tahun sudah hampir 50 juta saya keluarkan untuk perbaikan kualitas…hanya untuk agar lebih kuat dan bisa layak huni. Sehingga total nilai aset saya adalah 90 juta (belum termasuk beban bunga yang harus dibayar, dan faktor peningkatan nilai jual selama 4 tahun). Menurut penilaian saya perbaikan kualitas tersebut masih tergolong biasa di sana, mengingat para tetangga saya melakukan renovasi jauh lebih bagus daripada saya.

Kerugian immateriil jelas sulit terbayangkan….rumah yang tadinya akan ditempati untuk membina keluarga dirampas begitu saja. Belum lagi rencana lanjutan renovasi supaya lebih nyaman dihuni pun pupus sudah. Tuntutan cash n carry sama seperti 4 desa sebelumnya adalah sudah di bawah harga tawar, mengingat harga lokasi perumahan jelas lebih mahal. Apalagi rumah saya sendiri berada di jalan selebar 12 m dan itu merupakan ekstra 1 juta rupiah di awal pembelian. Sekarang akan direlokasi ke wilayah yang tidak jelas (diperkirakan selesai dibangun dalam 2 tahun) plus insentif 20 juta (nilai rumah 40 juta, nilai sekarang)…apa ya sama? Ingat dalam 2 tahun terjadi faktor bunga sampai dengan 25%…wow.

Saya pribadi hanya ingin mengetuk nurani Pemerintah dan Nirwan Bakrie (sebagai wakil Lapindo). Perhitungan cash n carry adalah jumlah yang sangat wajar (mungkin bagi sebagian tetangga saya justru rugi). Dahulu, saya kesal ketika dalam forum internasional ada orang Indonesia yang menjelek-jelekkan negeri sendiri. Kini, entah apa lagi yang harus saya banggakan dari pemerintah di negeri ini jika ketidakadilan ini terus terjadi.

Kepada anak-anakku mahasiswa dan mahasiswi Program S-1 Teknik Industri ITS….mohon maaf apabila dalam seminggu ini saya tidak bisa mengajar. Bukan dalam rangka mogok kerja….karena saya masih setiap hari ngantor. Melainkan untuk mengurangi beban sosial psikologis yang sudah dialami akibat “dirampok” oleh Lapindo Brantas Inc. Saya akan kembali mengajar mulai besok dan semoga Tuhan sendiri yang akan membuka mata hati pihak-pihak yang berkepentingan. Mungkin kejengkelan juga terjadi pada diri Dr. Suparto Wijoyo yang mengajak Jatim memboikot pajak ke pusat dan masih banyak lagi yang lainnya.

Demo I memblokade jalan tertutup oleh musibah terbakarnya KM Levina I

Demo II kepergian perwakilan warga ke Jakarta tertutup kecelakaan pesawat Garuda

Demo III menyikapi keputusan presiden (saat ini)….apa lagi?

Apakah saya harus boikot pilihan bupati/walikota, gubernur dan juga DPR plus Presiden???

Tinggalkan/Submit Komentar di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: