Computer Integrated Manufacturing

Konsep dasar Computer Integrated Manufacturing (CIM) telah dimulai sejak tahun 1970-an, dimana muncul paradigma baru bahwa terdapat subuah kebutuhan untuk mengintegrasikan seluruh komponene sistem manufaktur. Secara ringkas, CIM merupakan konsep / filosofi untuk mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis (marketing, design, distribusi, dan lain-lain) dengan fungsi otomasidi dalam sebuah sistem manufaktur. Fungsi otomasi yang dimaksud adalah integrasi otomasi proses dengan komunikasi data yang menggunakan jaringan komputer. Konsep arsitektur dasar dari CIM dapat disarikan dari CIMOSA (Compute Integrated Manufacturing Open System Architecture) yang ditujukan untuk menunjukkan ruang lingkup integrasi dan kebutuhan manajemen perubahan untuk implementasi konsep CIM.

CIM bukan merupakan sebuah upaya untuk mendirikan pabrik yang terotomasi penuh tanpa intervensi sama sekali oleh operator, melainkan upaya untuk melakukan perbaikan sinergi dari komponen-komponennya secara terus-menerus. Sesuai dengan semangat otomasi dari CIM, maka komponen-komponennya pun didominasi oleh perangkat yang dibantu oleh penggunaan komputer sebagaimana gambar di bawah ini:

Komponen manufaktur dalam gambar tersebut dapat diperluas dengan penggunaan AGV (Automated Guided Vehicle) ataupun komponen-komponen lain yang bersifat otomatis. Meskipun komponen yang dimiliki belum otomatis, tetapi tujuan umum dan operasional penggunaan paling tidak disetarakan dengan komponen yang sejenis/setara. Komponen manufaktur tersebut perlu berbagi database dengan format yang sama, karena masing-masing peralatan dibuat oleh perusahaan yang berbeda. Perlu ada kesepakatan besar untuk menyatukan bahasa program dan platform database yang sama tetapi hal ini akan terkendala dengan kepentingan bisnis perusahaan.

Di sisi lain, berbagai filosofi dalam pengembangan sistem manufaktur telah muncul mulai FMS sampai dengan Virtual Manufacturing. Persoalan mendasar yang dialami adalah bagaimana mengadopsi berbagai  filosofi tersebut ke dalam teknis rancang komponen sistem  manufaktur. Penyederhanaan konsep perlu dilakukan agar tujuan dasar dari setiap filosofi dapat diserap dalam rancangan teknis sistem manufaktur berbasis CIM, di samping rincian pemetaan sub-sub komponen yang menunjang aspek design, perancangan proses, dan fungsi lainnya dalam komponen sistem manufaktur pembentuk CIM.

Perancangan dan Implementasi CIM memang (dan seharusnya) tampak begitu kompleks karena melibatkan berbagai fungsi bisnis dari hulu (interaksi dengan pemasok) sampai hilir (interaksi dengan customer), dan juga level otomasi dari level operasional (sensor, actuator, PLC, dan proses lainnya) sampai dengan level manufacturing planning dan execution serta level business strategy. Persoalan utama yang dihadapi adalah integrasi komponen yang memiliki bahasa program dan platform database yang berbeda, mahalnya alat yang menyediakan sistem CIM yang lengkap, tantangan mengembangkan kondisi yang ada, menjadi sitem CIM lengkap, data sharing, dan accessibility antar departemen, manajemen perubahan dan juga pengadaan serta pemasangan (attachment) peralatan sistem baru. Berbagai persoalan tersebut sebaiknya direduksi dengan pembatasan tujuan atau ruang lingkup ataupun implementasi bertahap (misal per fungsi bisnis) sebagaimana digambarkan dalam contoh strategi implementasi berikut.    

Berdasarkan luasnya ruang lingkup dan kebutuhan analisa integrasi yang mendalam, maka sebetulnya peluang riset dalam bidang inipun cukup banyak. Beberapa literatur (buku, jurnal, artikel lain) umunya masih mengajukan wacana-wacana strategis yang luas, bukan detail, teknis dan mendalam (in-action). Meskipun demikian metodologi yang ditawarkan perlu diacu sebagai referensi awal penelitian yang akan dilakukan.

Akhirnya, berdasarkan berbagai uraian tersebut maka beberapa topik yang bisa diangkat sebagai penelitian antara lain sebagi berikut:

  1. 1.    Implementasi Sistem Otomasi Terintegrasi dalam Business Strategy and Manufacturing Planning
  2. 2.    Implementasi Sistem Otomasi Terintegrasi dalam Manufacturing Planning and Manufacturing Execution System
  3. 3.    Implementasi Sistem Otomasi Terintegrasi dalam Manufacturing Execution System and Level Operational
  4. Penentuan Strategi Manufaktur Terintegrasi dalam Interaksi Supplier dan Perancangan Produk
  5. Penentuan Strategi Manufaktur Terintegrasi dalam Interaksi Perancangan Produk dan Perencanaan Manufaktur
  6. Penentuan Strategi Manufaktur Terintegrasi dalam Interaksi Perancangan Produk dan Pengendalian Manufaktur
  7. Penentuan Strategi Manufaktur Terintegrasi dalam Interaksi Pengendalian Manufaktur dan Sales, Marketing, Accounting
  8. 8.    Penyelarasan Strategi Manufaktur dengan level otomasi dalam lingkup Business Strategy and Manufacturing planning
  9. Penyelarasan Strategi Manufaktur dengan level otomasi dalam lingkup Interaksi Customer dan Perancangan Produk

10.  Penyelarasan Strategi Manufaktur dengan level otomasi dalam lingkup Manufacturing Execution System and Level Operational

Penelitian tersebut dapat dilakukan melalui studi kasus di perusahaan tertentu (termasuk UKM) ataupun perusahaan dummy ( dianggap akan didirikan/ Greenfield).

Topik-topik penelitian tersebut dapat dikembangkan menjadi perancangan model melaui rancangan general KPI, modular unit pembentuk sistem maupun optimasi pemilihan komponen pembentuk  system manufaktur berbasis JIT ataupun berbagai filosofi sistem manufaktur. Tentunya secara keseluruhan tetap harus dikendalikan oleh kerangka pembentukan CIM yaitu integrated, flexible, dan efficient. Perancangan strategi perubahan dari CIM level saat ini menuju peningkatannya juga merupakan isu menarik yang perlu dikembangkan serta peluang perluasannya ke sektor jasa.

Referensi

Groover, Mikell. P. 2001. Automation, Production system, and Computer-Integrated                    Manufacturing,2nd edition, Prentice Hall, New Jesery

Lindsrom, V & Winroth, M. 2010. Aligning manufacturing Strategy and Levels of      Automation: A case study, Journal of Engineering and Technology Management 27, 148-159

Ang, C.L. 1898. Planning and Implementing Computer Integrated Manufacturing, Computers in Industry 12, 131-140

Kumar, K.D,et.al.2005. Computers in Manufacturing: towards successful implementation of integrated automation system, Technovation 25,477-488

2 Responses

  1. Reblogged this on ShareIt.

  2. bagus banget bro…sering2 bahas yang lain bro..salut gw

Tinggalkan/Submit Komentar di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: