PENTINGNYA INDUSTRIAL BOARD ATAU SEJENISNYA DI SURABAYA

Beberapa kajian yang dilakukan oleh Tim Penyelarasan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia usaha dunia industri (DUDI) terbagi menjadi 4 pokok persoalan – jumlah, kualitas, lokasi, waktu. Jumlah penduduk yang sangat banyak rentan terhadap persaingan perebutan posisi kerja (lowongan kerja). Cukup banyak pekerja yang bekerja tidak sesuai bidang keahlian yang digelutinya selama menempuh pendidikan. Banyak pekerja yang berbondong-bondong ke pusat urban untuk berebut pekerjaan, sementara tenaga kerja lokal banyak yang terpinggirkan. Sebagian besar harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan “for a lifetime” pertama kali.

Beberapa lembaga/forum/organisasi di Surabaya telah berupaya mencetak tenaga kerja yang handal dan siap pakai, serta menyalurkannya ke dunia usaha dan dunia industri – melalui pelatihan, pemagangan dan model-model sejenis lainnya. Potensi kewirausahaanpun yang terlihat menarik tidak cukup mampu menyerap tenaga kerja atau sumber daya manusia potensial yang masih menganggur. Beberapa temuan membuka mata kita bahwa sebagian besar siswa atau mahasiswa memilih jurusan yang sedang nge-trend, dan bukan jurusan/keahlian yang dibutuhkan 3-4 tahun ke depan saat dia lulus.

Sekolahpun membuka jurusan berdasarkan minat, karena logikanya memang demikian – jika tidak dibuka maka sulit mendapatkan murid/mahasiswa.
Industrial board dirancang untuk menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan DUDI. Idealnya, kita memiliki ramalan kebutuhan tenaga kerja dan bidang-bidang wirausaha paling tidak 3 tahun atau bahkan 10 tahun ke depan secara tepat. DUDI diminta berperan aktif dan ikhlas untuk memberikan informasi tentang potensi ke depan, termasuk potensi investasi yang ada (yang membutuhkan tenaga kerja atau sektor wirausaha pendukung). Dunia pendidikan harus mau dan mampu melakukan sinergi terhadap hal ini.

Terkesan kapitalis memang – dunia pendidikan dianggap sebagai pabrik pencetak tenaga kerja yang siap dilempar ke pasar DUDI. Tetapi ini demi eksistensi generasi mendatang. Ketika seorang generasi muda ditanya, “Tahun 2015 – tenaga kerja asing akan bebas masuk ke Indonesia lho. Bayangkan di SPBU yang mengisikan bensin adalah orang India”. Jawaban yang diterima, “Wah keren donk, kita dilayani Sarukh Khan”. *^%$#@ padahal kita bermaksud menyadarkan bahwa pekerjaan yang “maaf” relatif mudah itupun dilakukan orang asing, mau ke mana kita nanti.

Bagaimana pendapat Anda?

Tinggalkan/Submit Komentar di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: