Opini

Penderitaan Tiada Akhir [bagi Korban Luapan Lumpur Lapindo]

Entah sudah berapa kali (dalam persepsi saya) dan saya yakin banyak orang
terutama sesama korban lumpur setuju, Lapindo ingkar janji.
Beberapa pemberitaan justru tidak memberikan gambaran sesungguhnya tentang
apa yang kami rasakan sebagai korban lumpur.

Kali ini saya hanya ingin memberikan catatan praktis, karena entah sudah berapa
juta kali kami mengumpat langsung maupun dalam hati (Ya Allah ampuni hambaMu) –
karena terombang-ambing dengan berbagai ketidakpastian.

1. Perjuangan berdarah-darah untuk meminta ganti rugi (ganti untung)…yang akhirnya
berbuah dengan kesepakatan bahwa rumah-tanah kami akan dibayar. Itupun dengan proses
negoisasi yang sangat alot
2. Penentuan besaran ganti untung yang sering terhalang tentang status tanah baik itu
Letter-C, Pethok-D, SHGB maupun SHM
3. Tuntutan cash n carry (betul-betul tunai) akhirnya di”Perpres”-kan menjadi 20% di muka
dan 80% 2 tahun kemudian. Cash…dibayar uang…bukan alternatif lain yaitu relokasi maupun
cash resettlement.
4. Munculnya tawaran-tawaran relokasi…dibangunkan rumah dengan susuk….ah…menurut saya
sama juga memunculkan tawaran yang tadinya sudah ditolak…eh dimunculkan lagi.
5. Luas bangunan yang dulu sudah diklarifikasi BPLS…eh diklarifikasi ulang….
6. Yang terbaru…tawaran dicicil 15 juta per bulan…dan kami dari PerumTAS menuntut cash.
Kami pun harus berbesar hati dengan 30 juta per bulan. Tapi nyatanya…..pembayaran molor dan
jumlah ter-transfer pun hanya 15 juta.

Entah berapa juta liter air mata lagi yang harus diteteskan dan beberapa literatur pun menyebutkan orang yang mengalami tekanan mental terus-menerus 2 tahun akan mengalami depresi. Luar biasa Allah melindungi sebagian besar dari kami untuk tabah dan kuat.

Apa artinya Perpres kalau dilanggar?
Apa artinya Perjanjian Ikatan Jual Beli di depan notaris kalau kemudian dilanggar juga?

Secara praktis, saya pribadi sudah berhitung…lebih rugi jika diganti dengan tanah-rumah
(yang akhirnya tak kunjung dibangun). Eh…ternyata minta tunai pun terancam buntung…kalau
memang dianggap jual beli. Entah, adakah orang yang mau menjual rumahnya dibayar DP 20% setelah
itu yang 80% dicicil selama (maunya 30 jt per bulan, eh turun lagi jadi 15 jt per bulan).
Silakan dihitung dengan model interest bank berapa yang harus kami tanggung dengan perhitungan
time value of money. Anggap saja bunga pinjaman bank 5%…dalam jangka waktu 2 tahun (dengan perhitungan bunga majemuk) bagaimana? Mungkin ada pakar investasi/ekonomi yang bisa memberi hitungan yang pas?

Jika memang niat baik mengapa tidak langsung dibayar tunai …?  (ok lah kami memang pantas diberi shodaqoh)
…di pemberitaan A tertulis uang sudah ada – cuman masalah administrasi saja, e…di
pemberitaan B dan setelah di demo baru bilang uang tidak ada. Bagaimana ini?

Apakah kita harus menghadirkan Tuhan sebagai Notaris atau Jaksa dan Hakim…supaya kalau ingkar-hukumnya
langsung (Astaghfirullah!)? Lha sumpah atas nama Allah dengan saksi Cak Nun tiada artinya.

Rasanya rencana kami untuk segera melakukan sesuatu untuk masa depan (untuk suami/istri, anak
dan bahkan cucu)…menjadi ngambang lagi.

Apakah kami juga harus ber”suudzon” nanti sampai pemilu, ganti presiden-ganti anggota legislatif kami
pun akan dilupakan????

Siapa mau menjawab? Lengkapi jawaban Anda juga dengan jika Anda menjadi kami para korban!

Tinggalkan/Submit Komentar di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: